Rabu, 01 September 2021

Adaptasi ikan sepatung (Pristolepis grootii) dalam wadah budidaya

Ringkasan:

Ikan sepatung (Pristolepis grootii) merupakan salah satu jenis ikan native perairan Indonesia. Nama ikan ini secara internasionaldikenal dengan sebutan Indonesian leaf fish. Hal ini sebagai bukti secara internasional jenis ikan ini diakui berasal dari Indonesia. Di Indonesia, ikan sepatung terdapat di perairan umum Pulau Sumatera dan Kalimantan. Di Sumatera, ikan ini ditemukan di Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi. Di Sumatera Selatan ikan ini dimanfaatkan masyarakat sebagai ikan konsumsi dan juga sebagai ikan hias. Produksi ikan ini masih mengandalkan hasil penangkapan nelayan dari perairan umum sungai dan rawa. Hasil tangkapan nelayan semakin menurun sedangkan pembudidayaan ikan sepatung belum dilakukan. Oleh karena itu, untuk menjaga kelestarian spesies ikan ini dan juga untuk meningkatkan produksinya, ikan sepatung perlu dibudidayakan. Sebagai langkah awal untuk pembudidayaan ikan sepatung perlu pengadaptasian ikan sepatung yang berasal dari alam liar ke dalam wadah budidaya.

Teks lengkap:https://repository.unsri.ac.id/23114/1/Adaptasi_ikan_sepatung.pdf

Pustaka:

Muslim, M., Zairin Jr, M., Suprayudi, M. A., Alimuddin, A., Boediono, A., & Diatin, I. (2019). Adaptasi ikan sepatung (Pristolepis grootii) dalam wadah budidaya. Uwais Inspirasi Indonesia. Purwokerto.

Mengenal ikan sepatung (Pristolepis grootii), spesies asli Indonesia kandidat komoditi akuakultur

 Abstrak

Ikan sepatung (Pristolepisgrootii), merupakan salah satu jenis ikan endogenous Indonesia. Ikan ini native di perairan umum air tawar di pulau Sumatera dan Kalimantan. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui aspek bioekologi, harga, produk olahan ikan sepatung dan menyebarluaskan informasi yang terkait dengan ikan sepatung. Metode pengumpulan data melalui survey, pengamatan laboratorium dan studi literatur. Data yang dikumpulkan terdiri data primer dan data sekunder. Dari hasil pengamatan dan analisa, ikan sepatung berkerabat dengan ikan betok (Anabas testudineus), ikan gurami (Osphronemusgoramy), ikan tembakang (Helostoma temminckii). Nama lokalnya beragam, nama nasional ikan sepatung dan nama internasionalnyaIndonesian leaf fish. Habitat hidup ikan sepatung di air tawar. Ikan ini termasuk jenis ikan omnivore, bersifat euryphagic. Perbedaan morfologi ikan jantan dan betina tidak jelas, dimorfisme seksual tidak tampak. Sex ratio ikan sepatung di alam bebas dalam kondisi seimbang. Ikan sepatungmemijah pada awal musim penghujan. Ikan ini dapat diolah menjadi berbagai menu masakan, dan dapat diawetkan dengan penggaraman, pengasapan dan fermentasi. Ikan sepatung memiliki keunggulan biologi dan bernilai ekonomi, sehingga layak menjadi kandidat komoditi budidaya perikanan.


Artikel lengkap klik link ini: http://jbdp.unbari.ac.id/index.php/AKUAKULTUR/article/view/52

Pustaka:

Muslim, M., Sahusilawane, H. A., Heltonika, B., Rifai, R., Wardhani, W. W., & Harianto, E. (2019). Mengenal ikan sepatung (Pristolepisgrootii), spesies asli Indonesia kandidatkomoditi akuakultur. Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau4(2), 40-45.

Variasi Warna, Morfologi dan Karakterisitk Habitat Lokasi Penangkapan Ikan Sepatung (Pristolepis)

 ABSTRAK

Indonesia memiliki sumberdaya ikan sangat beragam yang dapat dikembangkan menjadi komoditi budidaya perikanan. Salah satu jenis ikan yang layak untuk dikembangkan adalah ikan sepatung (Pristolepis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi warna, morfologi dan karakteristik habitat ikan sepatung. Metode pengambilan sampel dilakukan secara sengaja (purposive sampling). Penangkapan ikan menggunakan alat tangkap ikan tradisonal berupa jaring insang, pancing, bubu dan empang. Hasil sampling ditemukan 5 jenis ikan sepatung (Pristolepis) dengan fenotif berbeda. Warna tubuh: coklat-kuning, coklat kehitaman, hitam kekuningan, dan hitam. Jumlah jari-jari pada sirip: punggung (D.XII-XIV. 14-16), ekor (C.20-21), anal (A. III.8-9). Habitat:sungai utama, anak sungai, rawa banjiran, rawa gambut. Air: berarus-tidak berarus. Dasar perairan: berlumpur, berpasir, bergambut.  Kualitas air: suhu (25-31 oC), oksigen terlarut (1,36-6,46  mg/L), ammonia (0,000-0,214  mg/L), alkalinitas (4-63 mg/L).

Artikel lengkap klik link berikut:

http://openjurnal.unmuhpnk.ac.id/index.php/JR/article/view/2878


Pustaka:

Muslim, M. 2021. Variasi warna, morfologi dan karakterisitk habitat lokasi penangkapan ikan sepatung (Pristolepis). Jurnal Ruaya: Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan, 9(2): 34-38.


Senin, 30 Agustus 2021

Ikan Bentulu (Barbichthys laevis)

Secara taksonomi, ikan bentulu termasuk Phylum Chordata, Kelas Teleostei, Ordo Cypriniformes, Family Cyprinidae, Genus Barbichthys,  Spesies Barbichthys laevis. Bentuk tubuh ikan panjang dan berbentuk kubus. Tubuh berwarna purih perak. Seluruh tubuh kecuali bagia kepala ditutupi sisik. Ikan ini memiliki sirip punggung, sirip perut, sirip dada, sirip anal, dan sirip ekor. Ekor berbentuk cagak. Bagian ujung semua sirip berwarna hitam dan sedikit merah. Ukuran ikan ini kecil-sedang. Ikan ini memiliki kemampuan melompat yang cukup tinggi.  Ikan ini merupakan salah satu jenis ikan air tawar. Habitat utama yani di sungai dan rawa-rawa yang terhubung dengan sungai. Ikan ini ditemukan di Sumatera dan Kalimantan. Di Sumatera ikan ini ditemukan di Riau, Jambi, Lampung dan Sumatera Selatan. Ikan ini termasuk jenis ikan pemakan tumbuhan dan hewan (omnivora). Ikan ini berkembangbiak dengan cara bertelur. Penangkapan ikan ini menggunakan alat jarring, bubu dan tangkul (alat tangkap angkat). Ikan ini sangat tinggi lompatannya untuk keluar dari tangkul.  Bentuk tubuh dan warna ikan ini sangat menarik, cocok dijadikan ikan hias. Namun akuarium pemeliharaan ikan ini harus memiliki tutup, karena ikan ini jika baru dipelihara dalam akuarium sering melompat keluar akuarium. Saat ini, ikan ini dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi dengan harga berkisar Rp. 5.000-10.000 per kg.  Penelitian dasar mengenai ikan ini masih sangat minim. Ikan ini prospektif dikembangkan menjadi komoditi ikan hias.  

Pustaka:

 

Selasa, 24 Agustus 2021

Ikan Miyong (Parachela oxygastroides)

Ikan Miyong (Parachela oxygastroides) merupakan salah satu jenis ikan perairan tawar umum Indonesia. Ikan ini banyak ditemukan di Sumatera Selatan. Ukuran ikan miyong kecil. Bentuk tubuh pipih dan tipis. Bentuk badan pipih dan tipis. Memiliki sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip anal dan sirip ekor. Ikan miyong ini, termasuk ikan berukuran kecil. Ikan ini memiliki sisik. Gurat sisi/linealateralis ikan ini sangat jelas berwarna kuning. Ikan miyong dijadikan ikan konsumsi oleh masyarakat Sumatera Selatan. Menu masakan ikan miyong yang paling popular yakni ikan miyong goreng. Selain dimasak dalam bentuk segar, ikan miyong sering diawetkan menjadi ikan asin dan ikan asap (salai). Ikan ini bernilai ekonomi tinggi, dengan harga jual ikan segar berkisar 40-50 ribu/kg. Ikan miyong salai mencapai 80 ribu/kg. Penelitian dasar mengenai aspek biologi dan ekologi ikan ini masih sangat jarang, sehingga masih sangat diperlukan. Penelitian lebih lanjut, upaya penjinakan dan pembudidayaan ikan juga sangat penting dilakukan. Ikan ini prospektif dikembangkan menjadi komoditi budidaya sebagai ikan hias.
 

Ikan Dukang (Bagroides melapterus)


Secara taksonomi, ikan dukang atau disebut juga ikan baung pisang termasuk Phylum Chordata, Kelas Teleostei, Ordo Siluformes, Family Bagridae, Genus Bagroides, Spesies Bagroides melapterus. Bentuk badan ikan memanjang dan melebar. Tubuh berwarna kuning dan hitam. Tidak memiliki sisik. Memiliki sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip anal dan sirip ekor. Pada sirip punggung dan sirip dada berkembang juri keras menjadi patil. Pada punggung bagian belakang terdapat sirip lemak (adipose fin). Ukuran ikan ini dapat mencapai 500 gram per ekor. Habitat ikan ini di sungai. Mulut ikan ini sangat kecil, tidak seperti ikan baung (kerabatnya). Duri patilnya sangat tajam dan bergerigi. Ikan ini lendirnya sangat tebal, jika membersihkan ikan ini lendir tebal berwarna kuning sangat nampak jelas. Lendir ikan dukung ini dapat dimanfaatkan untuk mengobati luka. Masyarakat Desa Muara Kamal, Kecamatan Pemulutan Barat Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, sudah lama menggunakan lendir ikan dukung ini sebagai obat luka. Luka yang dioles dengan lendir ikan ini akan terasa pedih sama sperti diberi obat luka/betadin. Khasiat lendir ikan Dukang untuk mengobati luka sudah terbukti. Hal ini mungkin secara ilmiah, lender ikan dukung mengandung bahan antibakteri. Karena fungsi lendir pada ikan-ikan yang tidak memiliki sisik seperti ikan dukang ini adalah sebagai pelindung ikan dari serangan parasit.